

Judul : Filsafat Santo Thomas Aquinas
Pengarang : Frederick Copleston
Penerbit : BasaBasi
Tahun Terbit : 2021

Ada masa dalam sejarah ketika manusia berusaha menjawab pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar: apakah akal dan iman dapat berjalan bersama? Di tengah pertanyaan itulah Thomas Aquinas hadir. Melalui buku Filsafat Santo Thomas Aquinas, Frederick Copleston mengajak pembaca menelusuri perjalanan intelektual seorang pemikir yang hidup pada abad ke-13, ketika Eropa sedang mengalami perubahan besar dalam dunia pengetahuan. Sebagai seorang sejarawan filsafat, Copleston tidak hanya memaparkan gagasan-gagasan Aquinas secara kering dan akademis. Ia mengisahkan bagaimana pemikiran itu tumbuh, diperdebatkan, lalu perlahan membentuk salah satu bangunan filsafat yang paling berpengaruh dalam sejarah Barat. Membaca buku ini seperti mengikuti perjalanan seorang sarjana yang berusaha menjembatani dua dunia: dunia akal yang bertanya dan dunia iman yang percaya.
Copleston memulai kisahnya dari kehidupan Thomas Aquinas sendiri. Lahir dari keluarga bangsawan Italia dan kemudian memilih jalan hidup sebagai biarawan Dominikan, Aquinas tumbuh dalam zaman yang sedang bergelora oleh penemuan kembali karya-karya Aristoteles. Pada masa itu, banyak orang khawatir bahwa filsafat Yunani akan menggoyahkan ajaran Kristen. Namun Aquinas justru melihat peluang yang berbeda. Ia percaya bahwa kebenaran tidak mungkin saling bertentangan. Jika akal digunakan dengan benar dan iman dipahami dengan baik, keduanya akan mengarah pada tujuan yang sama. Copleston menjelaskan perjalanan intelektual ini dengan tenang dan runtut, membuat pembaca memahami bahwa pemikiran besar tidak lahir dalam ruang kosong, melainkan tumbuh dari pergulatan panjang dengan zamannya.
Bagian yang paling menarik dalam buku ini adalah ketika Copleston menguraikan usaha Aquinas menyatukan akal dan iman. Bagi Aquinas, manusia diberi kemampuan berpikir bukan untuk diabaikan, melainkan untuk digunakan dalam memahami dunia. Karena itu, filsafat memiliki tempat yang penting. Namun pada saat yang sama, ada hal-hal yang melampaui kemampuan akal manusia dan hanya dapat dipahami melalui wahyu. Di sinilah Aquinas membangun jembatan antara keduanya. Copleston menunjukkan bahwa bagi Aquinas, iman bukan musuh akal, sebagaimana akal juga bukan ancaman bagi iman. Keduanya justru saling menguatkan. Gagasan ini terasa sederhana ketika dibaca, tetapi pengaruhnya sangat besar dalam membentuk tradisi intelektual Eropa selama berabad-abad.
Pembahasan tentang keberadaan Tuhan menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari buku ini. Copleston menguraikan lima jalan yang dirumuskan Aquinas untuk menunjukkan bahwa keberadaan Tuhan dapat didekati melalui penalaran rasional. Namun yang menarik, Aquinas tidak bermaksud memaksa orang untuk percaya melalui logika semata. Ia justru berusaha menunjukkan bahwa dunia yang terus bergerak, berubah, dan bergantung pada sesuatu yang lain, mengandung petunjuk tentang adanya dasar yang tidak berubah dan tidak bergantung pada apa pun. Dalam penjelasan Copleston, argumen-argumen ini terasa bukan sebagai rumus filsafat yang rumit, melainkan sebagai bagian dari pencarian manusia untuk memahami asal-usul dan tujuan hidupnya.
Pada bagian etika, Aquinas tampil sebagai pemikir yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia percaya bahwa setiap manusia menginginkan kebaikan dan kebahagiaan. Namun kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kesenangan sesaat atau keberhasilan duniawi semata, melainkan dalam kehidupan yang dijalani dengan kebajikan. Copleston menunjukkan bagaimana Aquinas memahami manusia sebagai makhluk yang memiliki tujuan. Karena itu, hidup yang baik adalah hidup yang bergerak menuju tujuan tersebut. Dari sinilah lahir gagasan tentang hukum kodrat, keadilan, dan tanggung jawab moral yang kemudian memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran hukum dan politik di dunia Barat.
Keunggulan utama buku ini terletak pada cara Copleston menempatkan Aquinas dalam arus sejarah yang lebih luas. Ia tidak menjadikan Aquinas sebagai tokoh yang terpisah dari zamannya, melainkan sebagai bagian dari percakapan panjang yang telah dimulai sejak filsafat Yunani dan terus berlanjut hingga sekarang. Pembaca diajak melihat bagaimana gagasan-gagasan besar lahir dari perjumpaan berbagai tradisi, dari keberanian untuk bertanya, dan dari kesediaan untuk mencari titik temu di tengah perbedaan. Karena itu, buku ini tidak hanya berbicara tentang seorang filsuf abad pertengahan, tetapi juga tentang perjalanan manusia dalam mencari kebenaran.
Pada akhirnya, Filsafat Santo Thomas Aquinas karya Frederick Copleston adalah sebuah buku yang mengingatkan bahwa pemikiran besar sering kali lahir dari upaya mempertemukan hal-hal yang tampaknya berlawanan. Dengan pendekatan sejarah yang kuat, Copleston memperlihatkan bagaimana Aquinas membangun jembatan antara akal dan iman, antara filsafat dan teologi, antara warisan masa lalu dan kebutuhan zamannya. Buku ini bukan hanya membantu pembaca memahami siapa Thomas Aquinas, tetapi juga mengajak merenungkan pertanyaan yang tetap relevan hingga hari ini: bagaimana manusia menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran tanpa kehilangan kedalaman makna yang diberikan oleh iman. Seperti perjalanan panjang yang menuntun seseorang menuju cakrawala yang lebih luas, buku ini mengajak pembaca menyadari bahwa pencarian akan kebenaran selalu menjadi bagian dari kisah manusia itu sendiri.
