

Judul : Abu Bakar Ar-Razi : Biografi dan Intisari Filsafatnya
Pengarang : M. Kamalul Fikri
Penerbit : DIVA Press
Tahun Terbit : 2025

Sejarah pemikiran Islam sering kita bayangkan sebagai deretan nama besar yang sudah akrab di telinga, seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan Al-Ghazali. Di antara mereka berdiri satu sosok yang jarang disapa, padahal ia salah satu yang paling berani: Abu Bakar Ar-Razi. Buku Abu Bakar Ar-Razi: Biografi dan Intisari Filsafatnya karya M. Kamalul Fikri berusaha mengenalkan kembali tokoh ini dengan runtut. Pembaca diajak berjalan dari perjalanan hidupnya, lalu menyusuri kariernya sebagai tabib dan ilmuwan, sebelum memasuki jantung pemikirannya. Susunan ini menyiratkan bahwa pemikiran seorang filsuf tidak lahir di ruang hampa, melainkan tumbuh dari pengalaman hidup, dan dari pengalaman merawat tubuh manusia itulah Ar-Razi belajar memikirkan jiwanya.
Dari sanalah buku ini bergerak ke empat gagasan pokok. Dalam filsafat moral, Ar-Razi memandang bahwa akal adalah anugerah terbesar yang harus menjadi pemandu hawa nafsu, bukan sebaliknya. Dalam pembahasan kenabian, ia mengajukan pandangan yang paling kontroversial, yakni mempertanyakan perlunya nabi bagi manusia yang telah dibekali akal. Dalam ajaran al-qudama al-khamsah atau lima yang kekal, ia menyusun kosmologinya: Tuhan, jiwa universal, materi pertama, ruang, dan waktu. Terakhir, dalam bab tentang gejala jiwa yang buruk dan cara mengobatinya, ia tampil sebagai dokter bagi batin, yang mendiagnosis penyakit seperti amarah, iri, dan kesombongan lalu meresepkan latihan akal sebagai obatnya. Keempat bagian ini tampak berlainan, tetapi satu benang menjalin semuanya: kepercayaan Ar-Razi yang nyaris tanpa syarat pada akal manusia.
Di situlah kelebihan buku ini. Ia membuka ruang bagi pembaca Indonesia untuk mengenal pemikir yang sering hanya muncul sebagai catatan kaki, bahkan sebagai “tokoh kontroversial” tanpa penjelasan. Struktur bab yang jelas, dari biografi menuju gagasan, memudahkan pembaca pemula menangkap peta pemikirannya tanpa tersesat. Bab terakhir tentang pengobatan jiwa terasa paling hidup, sebab persoalan yang dibahasnya, yakni cara mengelola amarah dan hawa nafsu, tetap menyentuh kehidupan kita hari ini. Namun, sebagai buku intisari, ia tentu memiliki batas. Gagasan sepelik kenabian dan lima yang kekal menuntut penelusuran sumber yang dalam, apalagi karya asli Ar-Razi banyak yang tidak sampai kepada kita dan pandangannya sebagian besar dikenal lewat kutipan para pengkritiknya. Pembaca yang mengharapkan analisis kritis yang mendalam atau perbandingan luas dengan filsuf lain barangkali perlu melengkapinya dengan bacaan lain.
Maka buku ini layak direkomendasikan bagi mahasiswa dan peminat filsafat Islam, pengajar yang mencari pengantar ringkas tentang Ar-Razi, serta pembaca umum yang ingin tahu bahwa tradisi intelektual Islam jauh lebih beragam daripada yang sering diceritakan. Ia juga cocok bagi siapa pun yang tertarik pada hubungan antara ilmu kedokteran dan filsafat, antara merawat tubuh dan menata jiwa. Barangkali itulah pesan paling tenang dari buku ini: bahwa berpikir bebas dan membersihkan diri bukanlah dua jalan yang berlawanan, melainkan dua langkah dari perjalanan yang sama, yaitu menjadi manusia yang lebih utuh.
