

Judul : Al Ghazali (Biografi dan Intisari Filsafatnya)
Pengarang : Abd. Syukur
Penerbit : DIVA Press
Tahun Terbit : 2024

Sedikit tokoh dalam sejarah Islam yang namanya begitu sering disebut sekaligus begitu sering disalahpahami seperti Al-Ghazali. Ia dijuluki Hujjatul Islam, pembela Islam, tetapi di ruang-ruang kuliah ia kerap hanya diingat sebagai “pembunuh filsafat”. Buku Al-Ghazali: Biografi dan Intisari Filsafatnya karya Abd. Syukur mencoba meluruskan gambaran itu dengan cara yang runtut. Pembaca lebih dulu diajak mengenal perjalanan hidupnya, dari seorang guru besar yang terhormat di Baghdad hingga masa krisis batin yang membuatnya meninggalkan kemapanan untuk mengembara dan menyepi. Kisah ini penting, sebab pemikiran Al-Ghazali tidak bisa dipahami tanpa memahami pergulatannya: ia adalah pemikir yang pernah meragukan hampir segalanya, lalu menemukan ketenangan di jalan spiritual.
Dari biografi itu, buku bergerak ke lima ranah pemikiran yang saling bertaut. Dalam bidang filsafat, pembaca bertemu Al-Ghazali yang mengkritik para filsuf, terutama dalam Tahafut al-Falasifah, namun sesungguhnya ia tetap memanfaatkan logika sebagai alat berpikir. Dalam tasawuf, ia memadukan syariat dengan pengalaman batin sehingga ibadah tidak berhenti pada ritual. Dalam etika, ia menekankan penyucian akhlak sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati. Pembahasan tentang jiwa menjelaskan bahwa kualitas perilaku bersumber dari keadaan batin, sedangkan maqashid syariah memperlihatkan bahwa hukum Islam bertujuan menjaga kemaslahatan manusia, seperti agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kelimanya terangkai oleh satu benang: ilmu tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan harus bermuara pada kebaikan hidup.
Disusun secara komprehensif untuk sebuah pengantar, para pembaca dapat memperoleh peta menyeluruh tentang Al-Ghazali, dari manusia hingga gagasannya, tanpa harus menyelami karya-karya induknya yang tebal, seperti Ihya’ Ulumuddin. Pembahasan yang mengaitkan tasawuf, etika, dan jiwa juga membantu pembaca melihat bahwa pemikirannya bersifat utuh, bukan potongan-potongan terpisah. Namun, justru karena cakupannya luas, kedalaman menjadi taruhannya. Perdebatan penting, seperti kritiknya terhadap filsafat dan pengaruhnya pada perkembangan pemikiran Islam, tentu sulit diurai tuntas dalam ruang yang ringkas. Pembaca yang mengharapkan telaah kritis atau perbandingan dengan filsuf lain, termasuk para filsuf yang dikritiknya, perlu melengkapinya dengan bacaan lain.
Buku ini kami rekomendasikan bagi mahasiswa dan peminat filsafat serta tasawuf, pengajar yang membutuhkan bahan pengantar ringkas, dan pembaca umum yang ingin mengenal Al-Ghazali secara lebih adil daripada sekadar label. Ia akan terasa bermanfaat terutama bagi mereka yang sedang mencari titik temu antara akal dan iman, antara berpikir dan menyucikan diri. Barangkali itulah pelajaran terdalam dari sosok yang dikisahkannya: bahwa keraguan bukanlah musuh keyakinan, melainkan pintu yang, bila dilalui dengan jujur, mengantar kita pada keyakinan yang lebih kokoh.
