Filsafat Thomas Hobbes

Resensi Buku

Judul               : Filsafat Thomas Hobbes

Pengarang     : Frederick Copleston

Penerbit          : BasaBasi

Tahun Terbit  : 2021

Sejarah filsafat sering kali bergerak mengikuti perubahan zaman. Ketika dunia berubah, cara manusia memahami dirinya sendiri juga berubah. Dalam Filsafat Thomas Hobbes, Frederick Copleston mengajak pembaca memasuki Inggris abad ke-17, sebuah masa yang dipenuhi pergolakan politik, perang saudara, dan pertanyaan besar tentang kekuasaan, ketertiban, serta hakikat manusia. Sebagai seorang sejarawan filsafat, Copleston tidak sekadar memaparkan teori-teori Hobbes dalam bentuk konsep-konsep yang terpisah. Ia menyusun kisah intelektual yang memperlihatkan bagaimana pengalaman sejarah, situasi sosial, dan perkembangan ilmu pengetahuan pada zamannya membentuk pemikiran Hobbes. Hasilnya adalah sebuah buku yang bukan hanya menjelaskan seorang filsuf, tetapi juga menghadirkan dunia yang melahirkan gagasan-gagasan tersebut.

Copleston memulai pembahasannya dengan menempatkan Hobbes dalam konteks perubahan besar yang sedang berlangsung di Eropa. Masa itu adalah periode ketika otoritas tradisional mulai dipertanyakan, ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan konflik politik mengguncang berbagai kerajaan. Hobbes hidup di tengah ketidakpastian tersebut. Ia menyaksikan perang saudara Inggris yang menimbulkan kekacauan dan pertumpahan darah. Pengalaman itulah yang kemudian menjadi salah satu kunci untuk memahami filsafatnya. Bagi Hobbes, persoalan terpenting bukanlah bagaimana manusia mencapai kesempurnaan moral, melainkan bagaimana masyarakat dapat terhindar dari kekacauan yang menghancurkan kehidupan bersama. Copleston menjelaskan latar belakang ini dengan rinci, sehingga pembaca dapat melihat bahwa filsafat Hobbes lahir dari kebutuhan yang sangat nyata: mencari dasar bagi ketertiban sosial.

Dari titik tersebut, Copleston membawa pembaca memasuki pandangan Hobbes tentang manusia. Berbeda dengan tradisi filsafat klasik yang sering memandang manusia sebagai makhluk yang secara alamiah mengarah pada kebaikan, Hobbes memulai dari asumsi yang lebih keras dan realistis. Menurutnya, manusia pada dasarnya digerakkan oleh keinginan, kepentingan, dan naluri mempertahankan diri. Setiap orang ingin memperoleh apa yang dianggap baik bagi dirinya dan menghindari apa yang dianggap mengancam. Dalam keadaan tanpa aturan bersama, dorongan-dorongan tersebut berpotensi melahirkan konflik yang tidak berkesudahan. Copleston menjelaskan pandangan ini bukan sebagai bentuk pesimisme semata, melainkan sebagai konsekuensi dari cara Hobbes memahami hakikat manusia melalui pendekatan yang dipengaruhi ilmu pengetahuan mekanistik pada zamannya.

Pembahasan kemudian sampai pada salah satu gagasan paling terkenal dalam filsafat politik, yaitu keadaan alamiah (state of nature). Copleston menguraikan bagaimana Hobbes membayangkan kondisi manusia sebelum adanya negara dan hukum. Dalam keadaan tersebut, tidak ada kekuasaan bersama yang mampu mengatur hubungan antarindividu. Akibatnya, muncul situasi yang oleh Hobbes digambarkan sebagai “perang semua melawan semua”. Kehidupan menjadi penuh ketakutan, ketidakpastian, dan ancaman kekerasan. Namun Copleston dengan cermat menunjukkan bahwa keadaan alamiah bukanlah catatan sejarah tentang masa lalu, melainkan sebuah konstruksi filosofis untuk menjelaskan mengapa manusia membutuhkan tatanan politik. Dengan penjelasan yang jernih, pembaca diajak memahami logika yang menghubungkan pandangan Hobbes tentang manusia dengan teori negaranya.

Dari sinilah lahir konsep kontrak sosial yang menjadi inti pemikiran Hobbes. Menurut Hobbes, manusia secara rasional menyadari bahwa kehidupan dalam keadaan alamiah tidak memungkinkan terciptanya keamanan. Karena itu mereka sepakat menyerahkan sebagian kebebasannya kepada suatu kekuasaan yang mampu menjaga ketertiban bersama. Kekuasaan tersebut diwujudkan dalam negara yang kuat, yang oleh Hobbes dianalogikan sebagai Leviathan, makhluk raksasa yang melambangkan otoritas politik. Copleston menunjukkan bahwa gagasan ini merupakan jawaban Hobbes terhadap kekacauan politik yang disaksikannya sendiri. Negara yang kuat bukan dipahami sebagai ancaman terhadap kebebasan, melainkan sebagai syarat agar manusia dapat hidup tanpa rasa takut. Melalui pendekatan historisnya, Copleston memperlihatkan bahwa teori politik Hobbes tidak lahir dari keinginan membela kekuasaan absolut semata, tetapi dari kegelisahan mendalam terhadap bahaya anarki.

Selain filsafat politik, buku ini juga membahas pandangan Hobbes mengenai pengetahuan dan realitas. Copleston menjelaskan bahwa Hobbes sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan modern, terutama pemikiran Galileo. Dunia dipahami sebagai sistem materi yang bergerak menurut hukum-hukum tertentu. Bahkan pikiran manusia pun dijelaskan melalui proses-proses yang bersifat mekanis. Pendekatan ini menjadikan Hobbes salah satu tokoh penting dalam perkembangan materialisme modern. Namun Copleston tidak berhenti pada penjelasan teoritis. Ia menunjukkan bagaimana pandangan tersebut berkaitan erat dengan upaya Hobbes membangun filsafat yang dapat memberikan kepastian sebagaimana ilmu pengetahuan alam memberikan kepastian mengenai dunia fisik.

Keunggulan utama buku ini terletak pada kemampuan Copleston menghadirkan Hobbes sebagai seorang pemikir yang lahir dari zamannya sekaligus memberi pengaruh besar bagi masa depan. Pembaca tidak hanya diajak memahami konsep-konsep seperti keadaan alamiah, kontrak sosial, atau negara berdaulat, tetapi juga melihat hubungan konsep-konsep tersebut dengan pergolakan sejarah Inggris abad ke-17. Dengan cara itu, filsafat tidak terasa sebagai kumpulan teori yang jauh dari kehidupan, melainkan sebagai respons terhadap persoalan-persoalan konkret yang dihadapi manusia.

Pada akhirnya, Filsafat Thomas Hobbes karya Frederick Copleston adalah sebuah buku yang memperlihatkan bagaimana ketakutan akan kekacauan dapat melahirkan salah satu teori politik paling berpengaruh dalam sejarah. Dengan ketelitian seorang sejarawan dan kejernihan seorang pengajar, Copleston berhasil menjelaskan perjalanan pemikiran Hobbes dari akar-akar historisnya hingga dampaknya terhadap perkembangan filsafat politik modern. Membaca buku ini seperti menyusuri sebuah sungai besar yang mengalir dari pergolakan Inggris abad ke-17 menuju dunia modern, tempat pertanyaan tentang negara, kekuasaan, kebebasan, dan keamanan masih terus diperdebatkan hingga hari ini. Di situlah letak kekuatan buku ini: ia mengingatkan bahwa filsafat selalu lahir dari kehidupan, dan karena itu ia selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada setiap zaman.

Related Posts

Inovasi

Central Asia Corner: Warisan Intelektual Muslim Jalur Sutra di Perpustakaan UMSIDA
July 8, 2025
CICIP Buku: Inovasi Unik Perpustakaan UMSIDA Hadirkan Koleksi Lewat Video Singkat
July 23, 2024
Inovasi Statistik di Perpustakaan UMSIDA: Pojok Statistik Virtual dan Program Agen Statistik untuk Meningkatkan Partisipasi Mahasiswa
May 17, 2024
HADIS: Inovasi Perpustakaan UMSIDA dalam Harmonisasi Diseminasi Ilmiah
May 3, 2024
Kesempatan Emas Bagi Dosen UMSIDA: Ikuti Hibah Buku Ajar dan Referensi 2024
March 25, 2024

Prestasi

Direktur Perpustakaan UMSIDA Dampingi 47 Jurnal Universitas Brawijaya Menuju Indeksasi Scopus
September 18, 2026
Direktur Perpustakaan UMSIDA Bekali Editor FISIB UTM Hadapi Tata Kelola dan Akreditasi Jurnal 2026
August 14, 2026
Direktur Perpustakaan UMSIDA Dipercaya Menjadi Crossref GLS Consultant untuk Kawasan Asia
August 11, 2026
Raih Pengakuan Global, Perpustakaan Umsida Diundang dalam Sesi Khusus THESDG pada GSDCongress 2026
July 1, 2026
Dari Bangkok ke Singapura, Crossref Kembali Dukung Kiprah Global Direktur Perpustakaan UMSIDA
June 16, 2026

Kerjasama

Umsida Sambut Tim BPS dalam Field Evaluation Pojok Statistik: Perkuat Literasi Data dan Wujudkan Diktisaintek Berdampak
September 4, 2026
Direktur Perpustakaan UMSIDA Bekali Editor FISIB UTM Hadapi Tata Kelola dan Akreditasi Jurnal 2026
August 14, 2026
Direktur Perpustakaan UMSIDA Dipercaya Menjadi Crossref GLS Consultant untuk Kawasan Asia
August 11, 2026
Perkuat Referensi Klinis Mahasiswa, Perpustakaan UMSIDA Resmi Langgan McGraw Hill Access Medicine
July 10, 2026
Perkuat Kolaborasi, Pojok Statistik UMSIDA Terima Kunjungan Studi Banding Universitas Telkom Surabaya
July 2, 2026

Kegiatan Literasi

Direktur Perpustakaan UMSIDA Dampingi 47 Jurnal Universitas Brawijaya Menuju Indeksasi Scopus
September 18, 2026
UMSIDA Berdampak: Integrasi Data Sensor, AI, dan Statistik Dorong Masa Depan Pengukuran Kekuatan Otot Manusia
September 4, 2026
Bedah Buku Pegadaian Syariah, Dorong Pemahaman Keuangan Islam yang Lebih Dekat dengan Masyarakat
September 3, 2026
Podcast BIRU UMSIDA Kupas Peran Sudut Tool dalam Friction Stir Welding
August 27, 2026
Bedah Buku Pemrograman CNC UMSIDA Kupas Teknologi di Balik Mesin Presisi
August 20, 2026

Agenda

There're no item that match your search criteria. Please try again with different keywords.