

Judul : Tentang Jiwa : Gerak Jiwa dan Pengindraannya
Pengarang : Aristoteles
Penerbit : BasaBasi
Tahun Terbit : 2021

Apa bedanya orang yang hidup dengan orang yang sudah meninggal, selain napas dan detak jantungnya? Pertanyaan sederhana itulah yang dijawab Aristoteles dalam Tentang Jiwa (De Anima), salah satu karya paling awal dalam sejarah psikologi. Baginya, jiwa bukan hantu yang bersemayam di dalam tubuh, melainkan “bentuk” dari tubuh yang hidup, ibarat kemampuan melihat bagi sebuah mata. Mata tanpa kemampuan melihat tak lagi layak disebut mata, begitu pula tubuh tanpa jiwa. Dari sana ia menyusun tingkatan jiwa, yakni jiwa nutritif yang dimiliki tumbuhan, jiwa sensitif yang dimiliki hewan, dan jiwa rasional yang hanya dimiliki manusia. Pembahasannya kemudian turun ke pengindraan, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan peraba, lalu naik ke imajinasi, ingatan, dan akal, termasuk gagasan terkenal tentang akal aktif (nous poietikos) dan akal pasif.
Di sinilah letak bagian yang paling memikat. Aristoteles menolak gurunya, Plato, yang memandang jiwa dan tubuh sebagai dua hal terpisah. Bagi Aristoteles, keduanya menyatu, sehingga memahami manusia berarti memahami tubuh sekaligus jiwanya. Pandangan ini terasa sangat modern, mengingat kini para ilmuwan pun sibuk meneliti hubungan otak, perasaan, dan kesadaran. Lebih mengejutkan lagi, ia membahas hal-hal yang sering kita anggap remeh, seperti mengapa kita bisa membedakan warna dengan suara, atau bagaimana kita bisa tahu bahwa kita sedang melihat. Pertanyaan sepele yang ternyata menyimpan teka-teki besar, dan sebagian dari teka-teki itu belum juga tuntas sampai sekarang.
kajian tentang kesadaran, sekaligus sangat berpengaruh dalam pemikiran Islam maupun Barat abad pertengahan. Pendekatannya yang menghubungkan jiwa dengan tubuh dan pengalaman nyata membuatnya terasa membumi, bukan sekadar spekulasi di awang-awang. Namun jangan berharap ini bacaan yang ramah. Seperti karya Aristoteles lainnya, gaya tulisnya padat, penuh istilah teknis, dan mirip catatan kuliah. Bagian tentang akal paling terkenal sulit dan hanya dibahas secara singkat sehingga melahirkan tafsir yang berbeda-beda selama berabad-abad. Selain itu, penjelasan fisiologisnya, misalnya tentang jantung sebagai pusat pengindraan, sudah usang menurut ilmu pengetahuan modern, sehingga pembaca perlu membedakan mana yang masih relevan dan mana yang hanya bernilai sejarah.
Maka, Tentang Jiwa paling cocok dibaca oleh mahasiswa dan pengajar filsafat, psikologi, dan ilmu kognitif, peminat sejarah pemikiran termasuk filsafat Islam, serta siapa pun yang penasaran dengan hakikat kesadaran dan kehidupan. Sebaliknya, pembaca yang mencari buku psikologi populer atau panduan praktis mengelola pikiran dan perasaan mungkin akan kewalahan. Tetapi bagi mereka yang mau bersabar, buku ini akan terasa seperti undangan untuk berhenti sejenak dan menyadari betapa ajaibnya hal-hal yang selama ini kita jalani tanpa berpikir, yaitu melihat, mendengar, mengingat, dan merasa hidup.
