

Judul : Tentang Langit
Pengarang : Aristoteles
Penerbit : BasaBasi
Tahun Terbit : 2021

Pernahkah kamu berbaring di halaman rumah pada malam yang cerah, menatap bintang-bintang, lalu bertanya-tanya: sebenarnya apa yang ada di atas sana? Dua ribu tahun lebih sebelum teleskop ditemukan, Aristoteles sudah bertanya hal yang sama dalam Tentang Langit (De Caelo). Buku ini terdiri dari empat bagian yang membahas susunan alam semesta. Ia menggambarkan kosmos sebagai bola yang terbatas dengan Bumi diam di pusatnya, dikelilingi lapisan-lapisan bola langit tempat bulan, matahari, planet, dan bintang bergerak melingkar. Menurutnya, dunia di atas bulan tersusun dari unsur kelima yang disebut eter, yang kekal, tak berubah, dan bergerak melingkar abadi, sedangkan dunia di bawah bulan tersusun dari empat unsur, yakni tanah, air, udara, dan api, yang selalu berubah. Dua dunia, dua hukum, dan Bumi berada di tengahnya.
Yang paling menarik, Aristoteles tidak sekadar berspekulasi, tetapi mencoba menyusun argumen. Ia menyimpulkan bahwa Bumi itu bulat, antara lain karena bayangan Bumi pada gerhana bulan selalu berbentuk lengkung dan karena posisi bintang berubah ketika orang bepergian ke utara atau selatan. Ia juga menolak gagasan bahwa ada banyak dunia dan bahwa Bumi bergerak, sesuatu yang kini kita tahu keliru. Di sinilah buku ini memikat dengan caranya sendiri: kita bisa menyaksikan bagaimana seorang pemikir jenius bernalar dengan bahan yang terbatas, sampai pada sebagian jawaban yang tepat dan sebagian yang meleset jauh. Bukankah itu pelajaran tentang bagaimana ilmu pengetahuan sebenarnya bekerja?
Kelebihan buku ini jelas terletak pada pengaruhnya. Selama hampir dua ribu tahun, pandangan Aristoteles tentang kosmos menjadi dasar astronomi di dunia Yunani, Islam, dan Eropa abad pertengahan, sehingga memahaminya berarti memahami cara manusia lama memandang alam semesta. Ia juga menunjukkan metode berpikir yang runtut dan berani beradu argumen, termasuk membantah para pendahulunya. Namun, kekurangannya pun tak bisa disembunyikan. Sebagian besar isinya sudah terbantahkan oleh sains modern, mulai dari Bumi sebagai pusat semesta, lingkaran sebagai satu-satunya gerak sempurna, hingga unsur eter yang ternyata tidak ada. Penalarannya sering bertumpu pada gagasan filosofis tentang kesempurnaan, bukan pada pengamatan dan percobaan. Gaya tulisnya yang padat dan penuh istilah teknis pun membuat pembaca awam mudah kewalahan.
Maka, Tentang Langit paling pas dibaca oleh mahasiswa dan pengajar filsafat, sejarah sains, dan astronomi, peminat sejarah pemikiran, serta siapa pun yang ingin tahu bagaimana manusia pernah membayangkan semesta sebelum ada teleskop dan satelit. Sebaliknya, jika kamu mencari penjelasan astronomi yang akurat dan mutakhir, buku ini jelas bukan tempatnya. Tetapi bagi pembaca yang bersedia menikmatinya sebagai jendela sejarah, buku ini akan terasa seperti menatap langit malam dengan mata orang-orang terdahulu: penuh takjub, penuh tanya, dan sesekali keliru, namun selalu berani bertanya.
