

Judul : Suhrawardi (Biografi dan Intisari Filsafatnya)
Pengarang : Yanuar Arifin
Penerbit : DIVA Press
Tahun Terbit : 2024

Dalam sejarah filsafat Islam, ada pemikir yang wafat dalam usia sangat muda, namun gagasannya terus menyala berabad-abad sesudahnya. Syihabuddin Yahya Suhrawardi adalah salah satunya. Ia dikenal sebagai Syaikh al-Isyraq, pendiri filsafat iluminasi, dan dieksekusi di Aleppo pada usia sekitar tiga puluhan. Buku Suhrawardi: Biografi dan Intisari Filsafatnya karya Yanuar Arifin mengajak pembaca mengenalnya dengan langkah yang tertata. Dimulai dari biografi, kita bertemu seorang pencari ilmu yang mengembara dari satu pusat keilmuan ke pusat lainnya, sebelum akhirnya berani membangun sistem berpikirnya sendiri. Dengan begitu, pembaca memahami bahwa gagasan Suhrawardi tentang cahaya tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh dari pengembaraan intelektual sekaligus spiritual, dan harganya dibayar dengan nyawa.
Dari kisah hidup itu, buku beranjak ke dua bagian pemikiran yang saling menopang. Pada bagian filsafat, pembaca diperkenalkan pada kritik Suhrawardi terhadap tradisi peripatetik, khususnya metode definisi Aristotelian, serta gagasan bahwa cahaya adalah gambaran paling tepat bagi hakikat wujud, dari Cahaya segala Cahaya hingga cahaya-cahaya yang lebih rendah. Pada bagian filosofi-sufistik, pembahasan bergeser dari nalar ke pengalaman batin. Bagi Suhrawardi, pengetahuan sejati tidak hanya dicapai lewat argumen, tetapi juga lewat penyingkapan (kasyf) dan pengetahuan langsung yang dikenal sebagai ilmu hudhuri. Dua bagian ini sesungguhnya satu napas, sebab nalar menyiapkan jalan dan pengalaman spiritual menyempurnakannya.
Kelebihan buku ini terletak pada ringkasnya peta yang ditawarkan. Filsafat iluminasi sering dianggap sulit karena sarat simbol, istilah, dan warisan Persia kuno, sehingga pengantar yang menata gagasan dari biografi menuju filsafat lalu tasawuf sangat membantu pembaca pemula. Bagi khazanah berbahasa Indonesia, hadirnya buku tentang tokoh yang jarang dibahas ini jelas patut dihargai. Namun, keringkasan itu juga menjadi batasnya. Konsep seperti hierarki cahaya, kritik terhadap definisi, dan hubungan antara intuisi dengan logika menuntut penjabaran yang berlapis dan banyak contoh. Pembaca yang menginginkan analisis kritis atau perbandingan dengan filsuf lain, misalnya Ibn Sina atau Mulla Sadra yang kelak melanjutkan jejaknya, perlu melengkapinya dengan bacaan lanjutan.
Buku ini kami rekomendasikan bagi mahasiswa dan peminat filsafat Islam yang ingin mengenal Suhrawardi untuk pertama kali, pengajar yang mencari bahan pengantar singkat, serta pembaca umum yang tertarik pada pertemuan antara akal dan pengalaman spiritual. Ia seperti lentera kecil yang menerangi jalan masuk menuju ruang yang lebih luas. Dan barangkali di sanalah pesan Suhrawardi terasa paling hangat: bahwa mengetahui bukan sekadar menyusun kesimpulan, melainkan membiarkan diri disinari, lalu dengan terang itu berjalan lebih jauh.
