Filsafat Leibniz

Resensi Buku

Judul              : Filsafat Leibniz

Pengarang    : Frederick Copleston

Penerbit         : BasaBasi 

Tahun Terbit : 2021

Gottfried Wilhelm Leibniz dikenal sebagai salah satu filsuf rasionalis terbesar dalam sejarah filsafat modern. Bersama René Descartes dan Baruch Spinoza, Leibniz membentuk fondasi rasionalisme Eropa yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan metafisika, logika, matematika, dan ilmu pengetahuan modern.

Dilahirkan di leipzig pada 1 Juli 1464, Leibniz dibesarkan dalam keluarga intelektual yang religius, membuat cara berpikirnya menjadi sistematis dan rasional. Leibniz juga dikenal sebagai seorang diplomat dan penasihat politik yang aktif di lingkungan kerajaan Eropa. Pengalaman praktis tersebut membuat filsafatnya tidak terlepas dari persoalan dunia nyata.

Copleston memandang Leibniz sebagai filsuf yang memiliki sistem pemikiran paling harmonis dibandingkan para rasionalis lain seperti Descartes dan Spinoza. Leibniz berupaya menyatukan metafisika, logika, ilmu pengetahuan, dan teologi ke dalam suatu tatanan pemikiran yang rasional dan teratur. Menurutnya, dunia bukanlah sesuatu yang kacau, melainkan sebuah sistem yang tersusun secara sempurna dan dapat dipahami oleh akal manusia. 

Salah satu gagasan utama Leibniz adalah konsep monad, yaitu substansi sederhana yang menjadi dasar seluruh realitas. Monad bukan benda material, melainkan entitas metafisis yang tidak dapat dibagi dan memiliki aktivitas internalnya sendiri. Setiap monad mencerminkan alam semesta dari sudut pandangnya masing-masing sehingga seluruh realitas dipenuhi oleh banyak pusat kesadaran yang berbeda. Copleston menjelaskan bahwa melalui teori monad ini, Leibniz ingin mempertahankan individualitas setiap makhluk sekaligus menjelaskan keteraturan dunia. Berbeda dengan Spinoza yang menekankan satu substansi tunggal, Leibniz justru melihat kenyataan sebagai kumpulan substansi individual yang hidup dalam keselarasan.

Keselarasan tersebut dijelaskan Leibniz melalui teori pre-established harmony atau harmoni yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Leibniz, jiwa dan tubuh sebenarnya tidak saling memengaruhi secara langsung. Tuhan sejak awal telah mengatur seluruh monad agar bergerak secara serasi sesuai hukum internal masing-masing. Karena itu, hubungan antara jiwa dan tubuh tampak harmonis walaupun tidak terjadi interaksi langsung. Copleston menilai teori ini sebagai usaha Leibniz untuk mempertahankan keteraturan ilmiah sekaligus kebebasan spiritual manusia. Dunia

berjalan seperti mekanisme sempurna yang telah dirancang oleh Tuhan dengan sangat rasional.

Selain itu, Leibniz mengembangkan prinsip sufficient reason atau asas alasan yang cukup. Ia berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada pasti memiliki alasan mengapa hal itu terjadi dan tidak mungkin berlangsung tanpa dasar rasional. Tidak ada kejadian yang benar-benar kebetulan. Prinsip ini menunjukkan keyakinan Leibniz bahwa realitas dapat dipahami melalui akal budi dan bahwa Tuhan menciptakan dunia berdasarkan kebijaksanaan yang sempurna. Copleston melihat prinsip ini sebagai salah satu dasar penting dalam perkembangan rasionalisme modern karena menegaskan bahwa dunia memiliki struktur logis yang dapat dijelaskan secara filosofis maupun ilmiah.

Leibniz juga dikenal melalui pandangannya bahwa dunia ini merupakan “dunia terbaik yang mungkin ada.” Menurutnya, Tuhan yang sempurna tentu memilih kemungkinan dunia terbaik untuk diciptakan. Walaupun manusia masih menemukan penderitaan dan kejahatan, Leibniz percaya bahwa semuanya tetap memiliki tempat dalam keseluruhan tatanan yang paling baik. Copleston menjelaskan bahwa optimisme Leibniz lahir dari keyakinannya terhadap kesempurnaan Tuhan dan keteraturan rasional alam semesta. Pandangan ini kemudian menjadi salah satu ciri khas filsafat Leibniz yang membedakannya dari banyak filsuf modern lainnya.

Copleston menjelaskan gagasan-gagasan Liebniz secara runtut dan mendalam namun tetap mudah diikuti.  Ia tidak hanya menjelaskan konsep-konsep utama, tetapi juga menempatkan Leibniz dalam konteks sejarah filsafat modern. Copleston menunjukkan adanya keterkaitan pemikiran Leibniz dengan filsuf lain seperti Descartes, Spinoza, hingga Kant. Dengan demikian, pembaca dapat memahami posisi Leibniz dalam perkembangan filsafat Barat.

Dalam penilaian Copleston, pemikiran Leibniz memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat modern, terutama dalam bidang metafisika, logika, dan teori rasionalitas. Leibniz tidak hanya dipandang sebagai filsuf, tetapi juga ilmuwan dan matematikawan yang mencoba membangun sistem pengetahuan universal. Melalui filsafatnya, Leibniz menunjukkan bahwa akal manusia memiliki kemampuan untuk memahami keteraturan dunia dan menemukan harmoni di balik keragaman realitas.

Related Posts

Peningkatan Kapasitas Pengelola Jurnal Ilmiah UMSIDA Melalui Workshop Sinkronisasi SINTA, GARUDA, dan Akreditasi ARJUNA

https://library.umsida.ac.id/ – Dalam upaya memperkuat ekosistem publikasi ilmiah serta meningkatkan...

Podcast Biru UMSIDA Kupas Penentuan Nisbah Mudharabah pada Perbankan Syariah Indonesia

https://library.umsida.ac.id/ — Direktorat Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) kembali menghadirkan...

Inovasi

Central Asia Corner: Warisan Intelektual Muslim Jalur Sutra di Perpustakaan UMSIDA
July 8, 2025
CICIP Buku: Inovasi Unik Perpustakaan UMSIDA Hadirkan Koleksi Lewat Video Singkat
July 23, 2024
Inovasi Statistik di Perpustakaan UMSIDA: Pojok Statistik Virtual dan Program Agen Statistik untuk Meningkatkan Partisipasi Mahasiswa
May 17, 2024
HADIS: Inovasi Perpustakaan UMSIDA dalam Harmonisasi Diseminasi Ilmiah
May 3, 2024
Kesempatan Emas Bagi Dosen UMSIDA: Ikuti Hibah Buku Ajar dan Referensi 2024
March 25, 2024

Prestasi

Raih Pengakuan Global, Perpustakaan Umsida Diundang dalam Sesi Khusus THESDG pada GSDCongress 2026
July 1, 2026
Dari Bangkok ke Singapura, Crossref Kembali Dukung Kiprah Global Direktur Perpustakaan UMSIDA
June 16, 2026
UMSIDA Library Tembus 100 Ribu Viewer, Literasi Hadir Lebih Dekat Lewat YouTube
June 12, 2026
Tiga Tahun Menyebarkan Pengetahuan, UMSIDA Preprints Server Tembus Setengah Juta Pengunjung
June 10, 2026
UMSIDA Tembus OATD: Karya Ilmiah Mahasiswa Kini Mendunia
April 24, 2026

Kerjasama

Perkuat Referensi Klinis Mahasiswa, Perpustakaan UMSIDA Resmi Langgan McGraw Hill Access Medicine
July 10, 2026
Perkuat Kolaborasi, Pojok Statistik UMSIDA Terima Kunjungan Studi Banding Universitas Telkom Surabaya
July 2, 2026
Dari Bangkok ke Singapura, Crossref Kembali Dukung Kiprah Global Direktur Perpustakaan UMSIDA
June 16, 2026
Pembelajaran Kontekstual melalui Observasi Arsip Elektronik di Lingkungan Perpustakaan
April 29, 2026
Perpustakaan UMSIDA Jalin Kerja Sama dengan PressReader, Akses Ribuan Majalah dan Koran Dunia Kini Lebih Mudah
April 2, 2026

Kegiatan Literasi

Akselerasi Reputasi Global: Sinergi Direktorat Perpustakaan dan DKUI UMSIDA dalam Workshop Pemeringkatan Internasional PTMA 2026
July 27, 2026
Peningkatan Kapasitas Pengelola Jurnal Ilmiah UMSIDA Melalui Workshop Sinkronisasi SINTA, GARUDA, dan Akreditasi ARJUNA
July 23, 2026
Podcast Biru UMSIDA Kupas Penentuan Nisbah Mudharabah pada Perbankan Syariah Indonesia
July 17, 2026
Memahami Ekonomi Islam Lebih Utuh melalui Podcast Bedah Buku UMSIDA
July 9, 2026
Di FORCE2026, Direktur Perpustakaan UMSIDA Tekankan Peran Komunitas Lokal dalam Menutup Kesenjangan Open Access
July 7, 2026