SIDOARJO – Kiprah Direktorat Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dalam ekosistem komunikasi ilmiah semakin meluas ke tingkat internasional. Direktur Direktorat Perpustakaan UMSIDA, Mochammad Tanzil Multazam, dipercaya menjalankan peran sebagai Crossref Grant Linking System (GLS) Consultant untuk kawasan Asia.
Penugasan profesional tersebut berlangsung sejak Maret 2026 dengan fokus engagement di Indonesia, Malaysia, Uzbekistan, dan Kazakhstan. Dalam proyek selama enam bulan tersebut, Tanzil menjalankan berbagai kegiatan mulai dari pemetaan pemangku kepentingan dan kebijakan, membangun engagement dengan organisasi pendanaan penelitian, hingga menyusun rekomendasi strategis untuk mendorong pemanfaatan Crossref Grant Linking System di kawasan Asia.
Kontrak profesionalnya dilaksanakan melalui Publishers International Linking Association dengan skema milestone contract. Statement of Work yang menjadi bagian dari kontrak memuat enam tahapan pekerjaan, mulai dari policy scan, stakeholder mapping, outreach, introductory meetings, event engagement, partnership mapping, hingga penyusunan final recommendations dan laporan kepada Crossref.
Surat verifikasi yang diterbitkan pada 10 Agustus 2026 juga mengonfirmasi bahwa Mochammad Tanzil Multazam telah memberikan layanan kepada Publishers International Linking Association sejak 16 Maret 2026 dengan skema pembayaran berbasis proyek.

Membawa Kompetensi Perpustakaan ke Ekosistem Riset Internasional
Bagi Direktorat Perpustakaan UMSIDA, capaian tersebut memiliki relevansi khusus. Perpustakaan perguruan tinggi kini tidak lagi hanya berperan dalam penyediaan dan pengelolaan koleksi, tetapi semakin terlibat dalam scholarly communication, open access, repository, persistent identifier, research visibility, metadata, dan research intelligence.
Crossref Grant Linking System berada langsung dalam ekosistem tersebut.
GLS dikembangkan untuk memungkinkan informasi mengenai pendanaan penelitian diidentifikasi dan dihubungkan secara lebih terstruktur dengan hasil penelitian. Dengan persistent identifier dan metadata yang terbuka, sebuah grant dapat dihubungkan dengan publikasi ilmiah, dataset, software, peneliti, institusi, dan bentuk keluaran penelitian lainnya.
Bagi Tanzil, keterhubungan tersebut penting karena saat ini informasi penelitian sering kali tersebar pada banyak sistem yang berbeda. Informasi grant berada pada sistem pendanaan, identitas peneliti berada pada platform lain, sedangkan artikel, dataset, repository, dan informasi institusi memiliki sistem metadata masing-masing.
Karena itu, salah satu pekerjaan yang dikembangkannya dalam peran sebagai GLS Consultant Asia adalah bagaimana berbagai infrastruktur tersebut dapat semakin saling terhubung.
Berikan Rekomendasi Strategis untuk Crossref
Peran tersebut tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi atau outreach.
Pada 3 Mei 2026, Tanzil menyusun “Official Feedback Version 1 on the Crossref Grant Linking System”, sebuah dokumen yang memuat analisis sekaligus rekomendasi strategis mengenai implementasi GLS di kawasan Asia.
Dalam laporan tersebut, ia mengusulkan agar GLS tidak hanya diposisikan sebagai mekanisme pemberian DOI terhadap grant, tetapi sebagai bagian dari infrastruktur metadata pendanaan penelitian yang transparan, dapat diverifikasi, dan interoperabel.
Salah satu gagasan utamanya adalah perubahan pendekatan dari funder-centric adoption menuju ecosystem-centric adoption. Artinya, implementasi GLS tidak cukup hanya melibatkan lembaga pemberi dana, tetapi juga perlu melibatkan research office perguruan tinggi, pengelola jurnal, publisher, repository, pustakawan, peneliti, dan penyedia sistem informasi penelitian.
Tanzil juga memberikan rekomendasi mengenai interoperabilitas Crossref dengan Research Organization Registry (ROR) dan ORCID, pengembangan mekanisme discovery terhadap grant, integrasi dengan repository dan research information systems, hingga pemanfaatan metadata pendanaan untuk research intelligence dan evaluasi kinerja penelitian.

Dorong Integrasi GLS dengan OJS
Salah satu perhatian khusus Tanzil adalah implementasi GLS pada jurnal-jurnal ilmiah di Indonesia.
Menurutnya, integrasi dengan Open Journal Systems (OJS) merupakan salah satu faktor kunci apabila Crossref ingin memperluas pemanfaatan Grant DOI di Indonesia dan Asia.
Dalam praktiknya, informasi pendanaan penelitian masih sering hanya dicantumkan dalam bagian acknowledgement pada file PDF artikel. Akibatnya, informasi tersebut dapat dibaca manusia tetapi belum tentu tercatat sebagai metadata terstruktur yang dapat ditemukan dan diproses oleh sistem lain.
Karena itu, ia mengusulkan workflow yang memungkinkan jurnal merekam nama organisasi pendana, ROR ID, Funder ID jika tersedia, award number, Grant DOI, serta funding acknowledgement secara terstruktur dan kemudian memasukkannya dalam metadata artikel yang didepositkan ke Crossref.
Usulan tersebut memperlihatkan semakin strategisnya posisi perpustakaan perguruan tinggi dalam mendukung pengelolaan komunikasi ilmiah institusi.

UMSIDA Masuk dalam Pemetaan Implementasi Indonesia
Pada strategic blueprint yang dikembangkan untuk implementasi GLS di Indonesia, Tanzil juga memetakan sejumlah aktor nasional dan perguruan tinggi berdasarkan kapasitas dan kemungkinan perannya dalam ekosistem Grant Linking System.
Pada rancangan tersebut, UMSIDA ditempatkan sebagai salah satu potensial “grassroots implementer”, yakni institusi yang dapat menjadi lingkungan implementasi pada tingkat perguruan tinggi dan menghasilkan bukti penggunaan GLS dari level institusional.
Pendekatan yang dikembangkan menggabungkan strategi top-down dan bottom-up. Engagement dengan lembaga nasional diperlukan untuk mendorong perubahan dalam skala luas, sedangkan perguruan tinggi dan jurnal dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa sistem tersebut dapat benar-benar diterapkan dalam workflow penelitian sehari-hari.
baca juga: Kepala Perpustakaan UMSIDA Perkuat Jaringan Internasional Melalui Kunjungan Strategis ke Astana, Kazakhstan
Perpustakaan sebagai Infrastruktur Penelitian
Penunjukan Direktur Perpustakaan UMSIDA dalam peran konsultansi Crossref di kawasan Asia juga menunjukkan perubahan wajah profesi kepustakawanan dan pengelolaan perpustakaan perguruan tinggi.
Perpustakaan saat ini berada di tengah ekosistem penelitian digital. DOI, ORCID, ROR, metadata, repository, open access, research data, hingga indikator research impact menjadi bagian yang semakin dekat dengan pekerjaan perpustakaan akademik.
Karena itu, kompetensi pengelola perpustakaan juga berkembang dari pengelolaan koleksi menuju pengelolaan infrastruktur pengetahuan dan komunikasi ilmiah.
Keterlibatan Direktur Perpustakaan UMSIDA dalam Crossref GLS menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi tersebut. Tidak hanya menggunakan infrastruktur scholarly communication internasional, tetapi turut menyampaikan analisis dan rekomendasi mengenai bagaimana infrastruktur tersebut dapat diimplementasikan secara lebih efektif dalam ekosistem riset Asia.
Bagi Direktorat Perpustakaan UMSIDA, capaian ini sekaligus memperkuat arah transformasi perpustakaan sebagai salah satu unsur strategis universitas dalam mendukung open science, visibilitas penelitian, pengelolaan metadata, dan tata kelola komunikasi ilmiah pada tingkat nasional maupun global.
Baca juga: Bayt al-Hikmah 4.0: Saat Pustakawan Menjadi Mitra Ilmu, Bukan Pelayan Literatur




