

Judul : Filsafat Santo Bonaventura
Pengarang : Frederick Copleston
Penerbit : BasaBasi
Tahun Terbit : 2021

Giovanni di Fidanza atau yang dikenal dengan nama Santo Bonaventura merupakan salah satu tokoh penting dalam filsafat dan teologi abad pertengahan, khusunya dalam tradisi Fransiskan-Agustinian. Menurut Copleston, Bonaventura merupakan penerus utama tradisi Santo Agustinus dalam filsafat abad pertengahan yang sangat dipengaruhi oleh: neoplatonisme, mistisisme Kristen, dan spiritualitas Fransiskan.
Bonaventura memandang Tuhan sebagai pusat seluruh realitas. Dunia dan manusia tidak dapat dipahami secara utuh tanpa relasinya dengan Tuhan. Berbeda dengan filsafat Aristotelian yang lebih rasional dan empiris, Bonaventura menekankan dimensi batiniah dan spiritual dalam pencarian pengetahuan, filsafat bukan sebagai ilmu yang berdiri sendiri, tetapi sebagai sarana menuju kebijaksanaan ilahi (sapientia). Gagasan ini merupakan bentuk kritik terhadap kecenderungan rasionalisme yang mulai berkembang pada abad ke-13 akibat pengaruh Aristoteles. Dalam analisis Copleston, Bonaventura tidak menolak akal, tetapi menolak pemisahan akal dari iman. Karena itu, filsafat harus tetap berada dalam orientasi spiritual dan religius.
Dalam pandangannya mengenai alam semesta ini, Bonaventura melihat alam semesta dan seisinya merupakan cerminan dari keberadaan dan kebijaksanaan ilahi (vestigia dei). Dunia material tidak dipandang terpisah dari Tuhan, melainkan sebagai simbol, tanda dan refleksi kehadiran ilahi, karena itu alam semesta memiliki nilai spiritual.
Bagian paling menarik dalam buku ini adalah pembahasan Itinerarium Mentis in Deum (“Perjalanan Jiwa Menuju Tuhan”). Perjalanan manusia menuju Tuhan berlangsung melalui beberapa tahap: mengenal Tuhan melalui alam, mengenal Tuhan melalui jiwa, mencapai kontemplasi, dan mengalami persatuan mistik dengan Tuhan. Di sini tampak jelas bahwa filsafat Bonaventura memiliki dimensi mistik yang sangat kuat. Pengetahuan tertinggi tidak dicapai melalui logika semata, tetapi melalui pengalaman spiritual.
Buku ini berhasil memperlihatkan bahwa filsafat tidak hanya berbicara mengenai rasio, tetapi juga pengalaman batin, moralitas, dan spiritualitas. Bonaventura ditampilkan bukan sekadar teolog, melainkan filsuf yang melihat manusia sebagai makhluk intelektual sekaligus spiritual.
Buku ini menjadi relevan dalam konteks modern karena memperlihatkan kritik terhadap rasionalisme ekstrem dan materialisme modern. Di tengah dunia yang semakin menekankan teknologi dan rasio, pemikiran Bonaventura yang dijelaskan Copleston mengingatkan bahwa manusia juga memiliki dimensi: spiritual, moral, dan kontemplatif. Bonaventura menawarkan keseimbangan antara iman dan akal, antara intelektualitas dan cinta, serta antara pengetahuan dan kebijaksanaan.
