Platform dan standar publikasi terbuka semakin tersedia, tetapi perbedaan literasi digital membuat sebagian pengelola jurnal belum mampu memanfaatkannya secara optimal. Komunitas lokal diperlukan untuk menerjemahkan teknologi global menjadi praktik yang mudah dipahami dan diterapkan.
Singapura — Tantangan utama pengembangan jurnal akses terbuka saat ini tidak lagi semata-mata terletak pada ketersediaan teknologi. Berbagai platform, standar metadata, pengenal persisten, dan layanan pendukung publikasi ilmiah telah tersedia. Namun, masih terdapat kesenjangan antara kecanggihan infrastruktur tersebut dan kemampuan digital sebagian penggunanya.
Persoalan ini menjadi pokok pemaparan Direktur Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), Mochammad Tanzil Multazam, ketika menjadi panelis dalam FORCE2026 di Singapore Management University, Singapura. Keikutsertaannya dalam konferensi tersebut mendapat dukungan pembiayaan dari Crossref.
Dalam panel bertajuk “The Role and Accessibility of Open Scholarly Infrastructure in Asia,” ia menyampaikan presentasi berjudul “From Visibility to Trust: Open Metadata and the Community Layer for Indonesian Scholarly Publishing.”
Infrastruktur Tersedia, tetapi Belum Selalu Mudah Digunakan
Ekosistem publikasi ilmiah terbuka saat ini telah didukung oleh berbagai infrastruktur, seperti Open Journal Systems atau OJS, Digital Object Identifier atau DOI, metadata terbuka, pengenal penulis, penghubung referensi, repositori, serta berbagai layanan pengindeksan.
Keberadaan infrastruktur tersebut membuat jurnal ilmiah memiliki peluang lebih besar untuk diterbitkan secara terbuka, ditemukan melalui mesin pencari, dihubungkan dengan penulis dan institusi, serta digunakan kembali oleh masyarakat akademik.
Namun, menurut Mochammad Tanzil Multazam, ketersediaan teknologi tidak otomatis menjadikan teknologi tersebut mudah digunakan oleh semua pengelola jurnal.

Terdapat kesenjangan literasi digital antara komunitas yang merancang dan menyediakan infrastruktur dengan sebagian pengguna yang mengoperasikannya. Pengguna tersebut dapat berasal dari perguruan tinggi atau wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya manusia, dukungan teknis, dan akses terhadap pelatihan teknologi publikasi.
“Infrastruktur akses terbuka sebenarnya sudah semakin memadai. Masalahnya, tidak semua pengguna memiliki kemampuan digital yang sama untuk memanfaatkan infrastruktur tersebut secara penuh. Karena itu, keterbukaan teknologi harus disertai dengan keterbukaan pengetahuan,” jelasnya.
Terjebak antara Biaya Mahal dan Teknologi yang Tidak Optimal
Kesenjangan kemampuan digital dapat membuat pengelola jurnal berada dalam dua pilihan yang sama-sama sulit.
Pilihan pertama adalah menggunakan layanan profesional atau dukungan teknis berbayar yang biayanya tidak selalu dapat dijangkau oleh jurnal yang dikelola perguruan tinggi kecil atau lembaga dengan sumber daya terbatas.
Pilihan kedua adalah menggunakan platform terbuka dan mempelajarinya secara mandiri melalui materi edukasi gratis yang tersedia di internet. Meskipun panduan, video, dan dokumentasi tersedia cukup banyak, tidak semua pengelola jurnal mampu mengubah informasi tersebut menjadi keterampilan teknis yang sesuai dengan persoalan mereka.

Akibatnya, teknologi yang telah tersedia belum selalu digunakan secara optimal. Pengelola jurnal dapat mengalami kesulitan ketika OJS diretas, ketika harus memperbarui versi sistem, melakukan pencadangan, menjaga keamanan server, mendepositkan DOI, memperbaiki data yang keliru, atau memperbarui metadata yang sebelumnya telah dikirimkan kepada Crossref.
Persoalan tersebut tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan membaca dokumentasi. Pengelola jurnal sering membutuhkan pendamping yang memahami masalah teknis sekaligus mampu menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa akses terhadap teknologi tidak sama dengan kemampuan untuk menggunakan teknologi.
Open Access Belum Tentu Menghasilkan Visibilitas dan Kepercayaan
Dalam presentasinya, Mochammad Tanzil Multazam menggunakan Indonesia sebagai contoh mengenai peluang sekaligus kerentanan infrastruktur publikasi terbuka dalam skala besar.
Indonesia memiliki lebih dari 29.000 jurnal ilmiah, lebih dari 5.000 penerbit, dan lebih dari 5,2 juta artikel yang tercatat dalam GARUDA. Sebagian besar penerbit tersebut berbasis di perguruan tinggi.
Besarnya jumlah jurnal menunjukkan perkembangan publikasi ilmiah yang sangat masif. Namun, jumlah jurnal dan artikel yang besar belum otomatis menjamin bahwa seluruh publikasi tersebut mudah ditemukan, memiliki metadata yang lengkap, atau dapat dihubungkan dengan ekosistem penelitian global.
Baca juga: Dari Bangkok ke Singapura, Crossref Kembali Dukung Kiprah Global Direktur Perpustakaan UMSIDA
Sebuah jurnal dapat menyediakan akses terbuka, tetapi artikelnya tetap sulit ditemukan. Sebuah jurnal juga dapat memiliki DOI, tetapi metadata yang dikirimkan belum tentu lengkap atau selalu diperbarui.
Metadata yang lemah dapat menyebabkan ketidakjelasan identitas penulis dan institusi, tidak tercantumnya informasi pendanaan dan lisensi, tidak terhubungnya daftar referensi, serta tidak terbaca dengan baiknya informasi mengenai koreksi atau pencabutan artikel.
Karena itu, metadata tidak seharusnya dipandang sebagai pekerjaan administratif semata. Metadata merupakan fondasi bagi visibilitas, keterlacakan, akuntabilitas, integritas penelitian, dan kepercayaan terhadap rekam ilmiah.
Komunitas Lokal Menjadi Lapisan yang Hilang
Menurut Mochammad Tanzil Multazam, pengembangan infrastruktur publikasi terbuka selama ini lebih banyak berfokus pada platform dan teknologi. Padahal, terdapat satu lapisan penting yang sering belum mendapatkan perhatian memadai, yaitu kapasitas komunitas lokal.
Standar global dibutuhkan agar sistem dan data dapat saling terhubung. Namun, komunitas lokal dibutuhkan agar standar tersebut dapat dipahami dan digunakan dalam praktik sehari-hari.
Komunitas lokal berperan menerjemahkan istilah teknis ke dalam bahasa yang lebih sederhana, menghubungkan persoalan teknologi dengan kebutuhan pengelola jurnal, serta menyediakan ruang konsultasi yang berkelanjutan.

Pendekatan komunitas berbeda dengan pelatihan satu arah. Dalam komunitas, pengelola jurnal tidak hanya menerima materi, tetapi juga dapat bertanya ketika menemukan masalah, berbagi pengalaman, dan memperoleh bantuan dari orang yang memahami kondisi lokal.
Salah satu contoh yang disampaikan dalam forum tersebut adalah Relawan Jurnal Indonesia atau RJI. Komunitas ini berkembang dari enam pendiri pada 2016 menjadi lebih dari 900 relawan dan telah memberikan pendampingan kepada lebih dari 3.600 penerbit.
RJI membantu menjembatani pengetahuan mengenai OJS, DOI, metadata, indeksasi, tata kelola editorial, dan berbagai aspek teknis pengelolaan jurnal. Pendampingan dilakukan secara sukarela atau dengan biaya yang sangat terjangkau, yang dalam banyak kegiatan hanya mencakup kebutuhan konsumsi dan transportasi relawan.
Model tersebut mendorong orang yang telah memperoleh pendampingan untuk kembali membagikan pengetahuannya kepada pengelola jurnal lainnya. Dengan demikian, pengetahuan tidak berhenti pada individu tertentu, tetapi berkembang melalui jaringan berbagi.
Perkembangan jurnal ilmiah di Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan publikasi terbuka tidak hanya didorong oleh tersedianya platform. Pertumbuhan tersebut juga ditopang oleh komunitas yang membantu pengguna memahami dan mengoperasikan teknologi.
Model Komunitas Lokal Dapat Direplikasi di Asia Tengah
Pendekatan berbasis komunitas dinilai dapat dikembangkan di kawasan lain yang menghadapi tantangan serupa, termasuk Asia Tengah.
Sejumlah institusi di kawasan tersebut memiliki keinginan kuat untuk meningkatkan visibilitas jurnal dan penelitian pada tingkat global. Namun, keinginan tersebut belum selalu diikuti dengan pemahaman teknis yang memadai mengenai pengelolaan jurnal digital, metadata, DOI, interoperabilitas, dan standar publikasi terbuka.
Tantangan lainnya adalah belum kuatnya komunitas lokal yang dapat memberikan pendampingan secara terus-menerus. Kebijakan pengembangan publikasi juga cenderung berfokus pada peningkatan jumlah keluaran, sedangkan penguatan infrastruktur dan kapasitas pengelola belum selalu menjadi perhatian utama.
Kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan situasi Indonesia pada masa awal perkembangan jurnal elektronik. Pengelola jurnal membutuhkan pihak yang dapat menjembatani bahasa teknologi dengan kebutuhan praktis di tingkat institusi.
Karena itu, pembentukan komunitas lokal di Asia Tengah tidak seharusnya hanya dilakukan dengan mengimpor pelatihan atau tenaga ahli dari luar. Komunitas perlu tumbuh dari pustakawan, editor, akademisi, tenaga teknologi informasi, dan pengelola jurnal yang hidup serta memahami konteks wilayah tersebut.
Komunitas lokal kemudian dapat terhubung dengan organisasi infrastruktur global seperti Crossref, DataCite, PKP, DOAJ, dan lembaga lainnya. Hubungan tersebut memungkinkan pengetahuan global diterjemahkan, disesuaikan, dan diterapkan sesuai dengan kebutuhan pengguna lokal.
Investasi pada Platform Harus Diimbangi Investasi pada Manusia
Poin utama yang disampaikan dalam FORCE2026 adalah perlunya keseimbangan antara investasi pada platform dan investasi pada komunitas.
Platform yang terbuka belum tentu inklusif apabila hanya dapat digunakan oleh orang yang memiliki kemampuan teknis tinggi. Sebaliknya, komunitas lokal tidak akan dapat berkembang secara optimal tanpa dukungan teknologi, dokumentasi, dan standar terbuka dari organisasi global.
Infrastruktur publikasi ilmiah yang berkeadilan membutuhkan keduanya. Platform menyediakan sistem dan standar, sedangkan komunitas menjadikan sistem tersebut dapat dipahami, digunakan, dan dipercaya.
“Standar global memungkinkan terjadinya interoperabilitas, tetapi komunitas lokal yang membuat standar tersebut benar-benar dapat digunakan. Unsur manusia inilah yang membuat infrastruktur bekerja,” tegas Mochammad Tanzil Multazam.
Mendukung Pendidikan, Infrastruktur, dan Pengurangan Kesenjangan
Gagasan tersebut sejalan dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals atau SDGs.
Penguatan literasi digital dan kemampuan pengelola jurnal mendukung SDG 4: Quality Education, khususnya dalam peningkatan keterampilan dan akses terhadap pengetahuan.
Pengembangan infrastruktur publikasi ilmiah yang terbuka, aman, dan dapat digunakan secara luas berkaitan dengan SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure.
Upaya menjembatani kesenjangan kemampuan teknologi antara institusi dan wilayah juga mendukung SDG 10: Reduced Inequalities. Sementara itu, kerja sama antara komunitas lokal, perguruan tinggi, perpustakaan, dan organisasi infrastruktur global merupakan implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals.
Melalui pemaparan tersebut, Perpustakaan UMSIDA menegaskan bahwa masa depan akses terbuka tidak cukup dibangun dengan teknologi. Infrastruktur yang terbuka juga harus dilengkapi dengan komunitas yang mampu memastikan bahwa teknologi tersebut dapat dipahami dan digunakan oleh semua pihak, termasuk mereka yang masih menghadapi keterbatasan literasi digital.
Unduh materi: Panel Discussion: The role and accessibility of open scholarly infrastructure in Asia




