Dari Bangkok ke Singapura, Crossref Kembali Dukung Kiprah Global Direktur Perpustakaan UMSIDA

Singapura — Kepercayaan Crossref terhadap kontribusi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam pengembangan komunikasi ilmiah terbuka terus berlanjut. Setelah mendukung keikutsertaan Direktur Perpustakaan UMSIDA dalam Charleston Conference Asia 2026 di Bangkok pada Januari lalu, Crossref kembali memberikan dukungan pembiayaan kepada Mochammad Tanzil Multazam untuk tampil sebagai panelis FORCE2026 3–5 Juni 2026 di Singapore Management University, Singapura.

Baca juga: Didukung Pembiayaan Crossref, Direktur Perpustakaan UMSIDA Tampil di Forum Internasional Charleston Conference Asia 2026

FORCE2026 sebagai Ruang Pertemuan Pegiat Akses Terbuka Dunia

FORCE2026 mengangkat tema “To Go Far, Go Together: Advancing Scholarly Communication Across Boundaries and Disruptions.” Konferensi ini menjadi ruang pertemuan bagi para penggerak komunikasi ilmiah terbuka dari berbagai negara, mulai dari pustakawan, akademisi, peneliti, penerbit, aktivis akses terbuka, pengembang teknologi, hingga organisasi penyedia infrastruktur utama dalam ekosistem publikasi ilmiah.

Gambar 1. Suasana Kegiatan Force2026

Sejumlah organisasi yang memiliki peran penting dalam infrastruktur pengetahuan terbuka turut terlibat dalam forum tersebut, antara lain Crossref, DataCite, Public Knowledge Project atau PKP, Directory of Open Access Journals atau DOAJ, serta berbagai lembaga dan komunitas internasional lainnya.

Bagi Perpustakaan UMSIDA, FORCE2026 tidak hanya menjadi forum untuk mengikuti perkembangan terbaru dalam komunikasi ilmiah, tetapi juga menjadi kesempatan strategis untuk membangun hubungan dengan organisasi yang mengembangkan standar, teknologi, metadata, dan platform yang digunakan oleh perguruan tinggi serta penerbit ilmiah di berbagai negara.

Dukungan Crossref Perkuat Jejaring Perpustakaan UMSIDA

Keikutsertaan Mochammad Tanzil Multazam dalam konferensi tersebut mendapat dukungan sponsorship dari Crossref. Dukungan ini memperkuat hubungan Perpustakaan UMSIDA dengan Crossref sebagai salah satu organisasi penyedia infrastruktur metadata ilmiah global.

Crossref menyediakan berbagai layanan yang menghubungkan publikasi, identitas penulis, institusi, sumber pendanaan, referensi, lisensi, koreksi, dan berbagai relasi lain dalam rekam ilmiah. Infrastruktur tersebut memiliki peran penting dalam meningkatkan keterlacakan, keterhubungan, dan kredibilitas hasil penelitian.

Gambar 2. Local community as missing layer

Melalui keterlibatan dalam FORCE2026, Perpustakaan UMSIDA memperoleh kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan organisasi-organisasi yang selama ini menjadi tulang punggung infrastruktur akses terbuka dunia.

Jejaring tersebut penting untuk mendukung penguatan layanan perpustakaan yang berkaitan dengan publikasi ilmiah, pengelolaan jurnal, metadata, identitas peneliti, repositori institusi, keterbukaan data penelitian, dan integritas akademik.

Membawa Perspektif Indonesia dalam Diskusi Infrastruktur Ilmiah Asia

Dalam FORCE2026, Mochammad Tanzil Multazam menjadi panelis pada diskusi bertajuk “The Role and Accessibility of Open Scholarly Infrastructure in Asia.” Panel tersebut merupakan bagian dari Session 7: Interoperability and Regional Access yang diselenggarakan pada 4 Juni 2026.

Diskusi tersebut mempertemukan perwakilan dari Crossref, DOAJ, PKP, Sin-Chn Scientific Press, dan Indonesia. Para panelis membahas kondisi pemanfaatan infrastruktur ilmiah terbuka di Asia, kesenjangan akses antarkawasan, serta tantangan dalam menerapkan standar global pada lingkungan dengan bahasa, kapasitas teknis, kebijakan, dan kebutuhan lokal yang beragam.

Gamabr 3. Presentasi Direktur Perpustkaan UMSIDA pada Force2026

Dalam pemaparannya yang berjudul “From Visibility to Trust: Open Metadata and the Community Layer for Indonesian Scholarly Publishing,” Mochammad Tanzil Multazam menjelaskan perkembangan ekosistem publikasi ilmiah Indonesia yang memiliki lebih dari 29.000 jurnal, lebih dari 5.000 penerbit, serta lebih dari 5,2 juta artikel yang tercatat dalam GARUDA.

Skala tersebut menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan ekosistem penerbitan ilmiah yang besar. Namun, besarnya jumlah jurnal dan artikel belum selalu diikuti dengan metadata yang lengkap, keterhubungan antarsistem, serta kemampuan untuk memastikan keterlacakan dan integritas publikasi.

Dalam forum tersebut, ia menekankan bahwa akses terbuka tidak cukup dimaknai sebagai tersedianya artikel yang dapat dibaca secara gratis. Publikasi ilmiah juga harus dapat ditemukan, diidentifikasi, dihubungkan, diverifikasi, dan dipertanggungjawabkan.

Menghubungkan Standar Global dengan Kebutuhan Lokal

Pengembangan infrastruktur ilmiah membutuhkan dua unsur yang berjalan secara seimbang. Unsur pertama adalah teknologi dan standar global yang memungkinkan terjadinya interoperabilitas. Unsur kedua adalah kapasitas komunitas lokal yang membantu peneliti, penerbit, pustakawan, dan pengelola jurnal memahami serta menerapkan standar tersebut.

Pengalaman Mochammad Tanzil Multazam dalam mendampingi komunitas penerbit ilmiah di Indonesia turut menjadi perspektif yang dibagikan dalam diskusi. Pengalaman tersebut memperkuat kontribusinya sebagai Direktur Perpustakaan UMSIDA dalam menjembatani kebutuhan lokal dengan perkembangan infrastruktur komunikasi ilmiah di tingkat global.

“FORCE2026 mempertemukan berbagai pihak yang selama ini bekerja pada bagian-bagian berbeda dalam ekosistem pengetahuan terbuka. Ada perpustakaan, akademisi, komunitas, penerbit, pengembang platform, dan lembaga penyedia infrastruktur. Pertemuan seperti ini penting agar layanan dan program yang dikembangkan Perpustakaan UMSIDA tetap terhubung dengan perkembangan global,” jelas Mochammad Tanzil Multazam.

Gambar 4. (ki-ka) Rocio-Crossref, Xiaofeng Guo-Sin-Chn SCIENTIFIC PRESS, Maria-PKP, Tanzil-UMSIDA, Joanna-DOAJ.

Interaksi langsung dengan para pengelola infrastruktur terbuka juga memberikan kesempatan kepada Perpustakaan UMSIDA untuk menyampaikan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi perguruan tinggi serta penerbit ilmiah di Indonesia.

Hal tersebut penting karena infrastruktur global tidak selalu dapat diterapkan secara seragam. Perbedaan bahasa, sumber daya, kapasitas teknis, tata kelola, dan kebijakan nasional perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan sistem komunikasi ilmiah yang lebih inklusif.

Mendukung SDGs melalui Akses Pengetahuan dan Kemitraan Global

Keikutsertaan Perpustakaan UMSIDA dalam FORCE2026 selaras dengan sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals atau SDGs.

Kegiatan ini mendukung SDG 4: Quality Education, khususnya melalui perluasan akses terhadap sumber pengetahuan, penguatan literasi publikasi ilmiah, serta peningkatan kapasitas sivitas akademika dalam memanfaatkan informasi dan infrastruktur penelitian secara bertanggung jawab.

Pengembangan metadata, repositori, interoperabilitas, dan infrastruktur komunikasi ilmiah juga berkontribusi terhadap SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure. Infrastruktur ilmiah yang terbuka dan terhubung menjadi salah satu fondasi bagi inovasi, kolaborasi penelitian, serta penyebaran hasil riset yang lebih cepat dan luas.

Penekanan pada keterlacakan, transparansi, koreksi publikasi, dan integritas penelitian memiliki keterkaitan dengan SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions. Sistem publikasi yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan membantu membangun institusi akademik yang lebih kredibel serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.

Sementara itu, keterlibatan Perpustakaan UMSIDA bersama Crossref, DOAJ, PKP, DataCite, serta para pegiat akses terbuka dari berbagai negara merupakan implementasi nyata SDG 17: Partnerships for the Goals. Kemitraan lintas negara dan lintas lembaga menjadi unsur penting dalam membangun ekosistem pengetahuan yang inklusif dan berkelanjutan.

Gambar 5. Open metadata as infrastructure

Jejaring Global untuk Penguatan Layanan Perpustakaan

Jejaring yang dibangun melalui FORCE2026 diharapkan dapat mendukung pengembangan berbagai layanan Perpustakaan UMSIDA, khususnya dalam literasi publikasi ilmiah, penguatan metadata, pengelolaan jurnal akses terbuka, pemanfaatan identitas peneliti, pengembangan repositori, serta peningkatan integritas dan visibilitas hasil penelitian.

Melalui partisipasi tersebut, Perpustakaan UMSIDA menegaskan perannya bukan hanya sebagai unit penyedia koleksi dan layanan informasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem komunikasi ilmiah internasional.

Keterlibatan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Perpustakaan UMSIDA sebagai penghubung antara sivitas akademika, pengelola publikasi ilmiah, komunitas nasional, dan organisasi infrastruktur pengetahuan global. Dengan jejaring tersebut, Perpustakaan UMSIDA dapat terus mengembangkan layanan yang terbuka, terpercaya, interoperabel, dan relevan dengan kebutuhan perkembangan penelitian serta pencapaian SDGs.

Baca juga: Direktur Perpustakaan UMSIDA Jadi Pembicara di Bengaluru, India pada Global Summit Diamond Open Access 2026
Unduh Materi: Panel Discussion: The role and accessibility of open scholarly infrastructure in Asia

Related Posts

Inovasi

Central Asia Corner: Warisan Intelektual Muslim Jalur Sutra di Perpustakaan UMSIDA
July 8, 2025
CICIP Buku: Inovasi Unik Perpustakaan UMSIDA Hadirkan Koleksi Lewat Video Singkat
July 23, 2024
Inovasi Statistik di Perpustakaan UMSIDA: Pojok Statistik Virtual dan Program Agen Statistik untuk Meningkatkan Partisipasi Mahasiswa
May 17, 2024
HADIS: Inovasi Perpustakaan UMSIDA dalam Harmonisasi Diseminasi Ilmiah
May 3, 2024
Kesempatan Emas Bagi Dosen UMSIDA: Ikuti Hibah Buku Ajar dan Referensi 2024
March 25, 2024

Prestasi

Raih Pengakuan Global, Perpustakaan Umsida Diundang dalam Sesi Khusus THESDG pada GSDCongress 2026
July 1, 2026
UMSIDA Library Tembus 100 Ribu Viewer, Literasi Hadir Lebih Dekat Lewat YouTube
June 12, 2026
Tiga Tahun Menyebarkan Pengetahuan, UMSIDA Preprints Server Tembus Setengah Juta Pengunjung
June 10, 2026
UMSIDA Tembus OATD: Karya Ilmiah Mahasiswa Kini Mendunia
April 24, 2026
Direktur Perpustakaan UMSIDA Jadi Pembicara di Bengaluru, India pada Global Summit Diamond Open Access 2026
April 4, 2026

Kerjasama

Perkuat Kolaborasi, Pojok Statistik UMSIDA Terima Kunjungan Studi Banding Universitas Telkom Surabaya
July 2, 2026
Pembelajaran Kontekstual melalui Observasi Arsip Elektronik di Lingkungan Perpustakaan
April 29, 2026
Perpustakaan UMSIDA Jalin Kerja Sama dengan PressReader, Akses Ribuan Majalah dan Koran Dunia Kini Lebih Mudah
April 2, 2026
Tiga Pustakawan UMSIDA Masuk Kepengurusan FPPTMA Jawa Timur Periode 2025–2027
March 13, 2026
UMSIDA dan BPS Sidoarjo Mantapkan Kolaborasi Pojok Statistik dan Program Akademik 2026
January 30, 2026

Kegiatan Literasi

Di FORCE2026, Direktur Perpustakaan UMSIDA Tekankan Peran Komunitas Lokal dalam Menutup Kesenjangan Open Access
July 7, 2026
Inovasi Filter Debu Dorong Produksi Kerupuk Gerandong Lebih Bersih dan Efisien
July 3, 2026
Pojok Statistik UMSIDA dan Universitas Telkom Surabaya Perkuat Literasi Statistik melalui Studi Banding
July 2, 2026
Bukan Sekadar Tempat Buku: Perpustakaan Umsida Jadi Garda Terdepan Literasi SDGs Dunia
June 30, 2026
Perpustakaan Umsida Ambil Peran Strategis Dongkrak Reputasi Internasional Lewat GSDCongress 2026
June 29, 2026